Pelajari cara menumbuhkan optimisme di tengah ketidakpastian melalui pola pikir realistis, kebiasaan kecil, regulasi emosi, dan strategi menjaga kesehatan mental
Ketidakpastian adalah bagian dari hidup—tapi tidak selalu mudah untuk diterima. Saat rencana berubah, kondisi ekonomi naik turun, pekerjaan terasa tidak stabil, atau masa depan terlihat kabur, pikiran mudah masuk ke mode “waspada” berlebihan. Dari situ muncul overthinking, cemas, dan rasa pesimis seperti tidak ada hal baik yang bisa diharapkan.
Namun optimisme bukan berarti menutup mata dari realita. Optimisme yang sehat adalah kemampuan untuk tetap melihat kemungkinan baik sambil tetap realistis, dan terus bergerak walau situasi belum jelas.
Berikut cara menumbuhkan optimisme di tengah ketidakpastian, secara praktis dan bisa dilakukan pelan-pelan.
1. Pahami: Optimisme Bukan Sekadar “Positive Thinking”
Banyak orang salah paham, mengira optimis berarti harus selalu bahagia.
Padahal optimisme yang realistis artinya:
- mengakui masalah itu nyata
- menerima emosi yang muncul (takut, cemas, sedih)
- tetap percaya ada langkah yang bisa diambil
- fokus pada hal yang masih bisa dikendalikan
Optimisme bukan menyangkal ketidakpastian, tapi membangun daya tahan di dalamnya.
2. Bedakan Hal yang Bisa Dikendalikan vs Tidak Bisa
Ketidakpastian sering terasa berat karena pikiran mencoba mengontrol sesuatu yang tidak bisa dikontrol.
Latihan sederhana:
- tulis 2 kolom: “Bisa Aku Kontrol” dan “Tidak Bisa Aku Kontrol”
- fokus energi di kolom pertama
Contoh yang bisa dikontrol:
- cara kamu merespon
- rutinitas harian
- skill yang dipelajari
- kebiasaan keuangan
- kualitas tidur dan kesehatan
Dengan fokus pada kontrol, otak merasa punya pegangan—dan optimisme lebih mudah tumbuh.
3. Bangun Rutinitas Kecil yang Membuat Hidup Terasa Stabil
Di tengah ketidakpastian, stabilitas bisa datang dari kebiasaan kecil.
Contoh rutinitas sederhana:
- bangun dan tidur di jam yang relatif konsisten
- jalan kaki 10–20 menit
- journaling 5 menit
- beresin ruang kerja/rumah sedikit setiap hari
- minum air cukup dan makan teratur
Rutinitas kecil menciptakan sinyal ke otak: “hidup masih bisa diatur.” Itu menenangkan dan menumbuhkan harapan.
4. Kurangi Konsumsi Informasi yang Membanjiri Pikiran
Update berita itu penting, tapi kalau berlebihan bisa jadi racun mental.
Yang sering terjadi:
- scrolling terus menerus
- otak penuh stimulus negatif
- timbul rasa panik dan helpless
Solusi yang realistis:
- tentukan jam khusus untuk membaca berita
- pilih sumber yang tepercaya
- batasi doomscrolling sebelum tidur
- imbangi dengan konten yang membangun (skill, edukasi, inspirasi)
Optimisme sulit tumbuh kalau pikiran terus-menerus diserang ketakutan.
5. Latih “Harapan yang Terukur”: Fokus pada Step Berikutnya
Ketidakpastian sering menyerang karena kita memaksa melihat terlalu jauh.
Alihkan fokus ke:
- “apa satu langkah kecil yang bisa aku lakukan minggu ini?”
- “kalau plan A gagal, apa plan B yang paling realistis?”
- “apa yang bisa aku siapkan dari sekarang?”
Optimisme paling kuat bukan dari jawaban besar, tapi dari langkah kecil yang nyata.
6. Ubah Pola Bicara pada Diri Sendiri (Self-Talk)
Self-talk yang negatif membuat ketidakpastian terasa seperti bencana.
Coba ubah kalimat:
- “Aku pasti gagal” → “Aku belum tahu hasilnya, tapi aku bisa mencoba strategi baru.”
- “Semua kacau” → “Ada bagian yang sulit, tapi aku masih punya langkah yang bisa dilakukan.”
- “Aku nggak mampu” → “Aku butuh waktu dan bantuan, tapi aku bisa belajar.”
Optimisme sering dimulai dari cara kita berbicara pada diri sendiri.
7. Praktik Syukur yang Realistis (Bukan Memaksa Bahagia)
Syukur bukan berarti menutup mata dari masalah. Syukur adalah menyeimbangkan perspektif.
Cara sederhana:
- tulis 3 hal kecil yang masih baik hari ini
- fokus pada hal yang tetap berjalan (kesehatan, keluarga, kesempatan, teman)
- apresiasi progress kecil, bukan hanya hasil besar
Saat pikiran punya “jangkar” positif, ketidakpastian jadi lebih mudah dihadapi.
8. Cari Lingkaran yang Menguatkan, Bukan Menambah Panik
Lingkungan sangat mempengaruhi optimisme.
Perhatikan:
- apakah circle kamu isinya solusi atau drama?
- apakah ngobrol dengan mereka membuat kamu tenang atau makin cemas?
- apakah mereka mendukung kamu untuk berkembang?
Optimisme tumbuh lebih cepat saat kamu tidak sendirian dan merasa dipahami.
9. Rawat Tubuh untuk Menolong Pikiran
Pikiran dan tubuh itu satu paket. Saat badan drop, mental ikut goyah.
Hal sederhana yang berdampak besar:
- tidur cukup
- gerak ringan tiap hari
- makan lebih teratur
- kurangi kafein berlebihan saat cemas
- latihan napas atau relaksasi singkat
Optimisme tidak selalu “dipikirkan”—kadang harus “dibantu” lewat kondisi tubuh yang stabil.
Kesimpulan
Menumbuhkan optimisme di tengah ketidakpastian bukan tentang memaksa diri positif setiap saat. Optimisme yang sehat adalah kemampuan untuk tetap melihat peluang, menjaga harapan yang realistis, dan melangkah sedikit demi sedikit walau masa depan belum jelas.
Dengan fokus pada hal yang bisa dikendalikan, membangun rutinitas kecil, membatasi informasi yang melelahkan, dan menjaga hubungan serta kesehatan, optimisme akan tumbuh sebagai kebiasaan—bukan sekadar mood.
Baca juga ;

